Sabtu, 02 Juli 2011

TOILET DAN PERADABAN MANUSIA

TOILET DALAM SEJARAH KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT


A.      Pendahuluan

Toilet adalah tempat duduk dalam kehidupan[1]. Tetapi, meskipun toilet selama beribu-ribu tahun telah melayani kebutuhan manusia, hanya beberapa diantara kita yang mengetahui sejarah dari penemuan manusia yang sangat berguna ini. Sedikit sekali pembahasan dalam permasalahan sejarah kehidupan sosial masyarakat yang mengangkat ataupun menyinggung permasalahan sanitasi sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Di Eropa khususnya di Inggris, pada pertengahan abad ke-19 pernah terjadi wabah kolera akibat buruknya sanitasi pasca revolusi industri. Bahkan di Indonesia, pemerintah Hindia Belanda pernah mengeluarkan kebijakan mengenai pembuangan limbah kotoran sebagai penyebab mewabahnya penyakit kolera di Batavia.
Toilet seperti yang kita kenal sekarang berkembang seiring dengan kemajuan berfikir dan berinovasi guna menciptakan teknologi sanitasi yang lebih efisien dan tepat guna. Perkembangan sanitasi khususnya toilet berkembang secara sporadis, sehingga pada peradaban yang satu bisa lebih maju dibandingkan peradaban yang lain. Jika meninjau kembali, sepanjang sejarahnya toilet memiliki kedudukan yang disamakan dengan jenjang sosial masyarakat. Sejak ditemukan-nya toilet paling awal pada sekitar 3000 SM di Lembah Sungai Indus, sampai pada  toilet berteknologi tinggi dari Jepang pada abad 21 ini, pembahasan mengenai toilet merupakan pembahasan yang selalu menarik untuk dikaji.
Siapa yang sesungguhnya menemukan toilet? Apa yang orang-orang gunakan sebelum toilet ditemukan? Bagaimana teknologi sederhana tetapi sangat dibutuhkan ini berkembang? Lalu mengapa toilet dianggap sebagai tempat duduk dalam hidup serta bagaimana maknanya dalam kehidupan sosial? Inilah yang akan coba dibahas dalam makalah ini.
B.       Toilet dan Teknologi Sanitasi Dalam Sejarah Kehidupan Sosial Masyarakat

Tanpa toilet, kota-kota dengan kepadatan penduduk yang tinggi mungkin tidak akan pernah ada. Meskipun toilet dengan bentuk yang kita kenal sekarang merupakan benda yang relatif modern yang berkembang di era yang sama dengan perkembangan kereta, mesin telephon, ataupun radio. Tetapi benda yang hampir sama secara kegunaan dengan toilet telah diciptakan seiring dengan awal perkembangan peradaban manusia, tentu dengan perkembangan bentuk yang berbeda antara peradaban yang satu dengan yang lainnya.

1.      Awal penggunaan “toilet” (secara sederhana) dibeberapa peradaban awal dunia.


            Terdapat berbagai jenis toilet di seluruh dunia. Kloset duduk[2] adalah jenis toilet yang paling umum di Barat, sedangkan kloset jongkok[3] adalah jenis toilet yang cukup lazim digunakan di Asia Tenggara, Asia Timur ( Republik Rakyat Cina dan Jepang), India, serta masih dapat dijumpai pada toilet umum di Eropa selatan dan timur (termasuk sebagian Perancis, Yunani, Italia, negara-negara Balkan, dan negara bekas Uni Soviet). Selain itu terdapat pula beberapa cara untuk membersihkan diri setelah menggunakan toilet. Hal ini bergantung pada norma dan adat setempat maupun sumber daya yang ada. Di Asia, air digunakan untuk keperluan tersebut, dan biasanya dengan menggunakan tangan kiri. Di Barat, yang lazim digunakan adalah kertas toilet, dapat juga dengan menggunakan perlengkapan lain mirip toilet yang disebut bidet.

            Pada awal tahun 3300 SM, Habuba Kabir, orang yang berasal dari kota Mesopotamia Kuno, menggunakan saluran pipa sebagai saluran pembuangan. Sedangkan orang-orang di Lembah Sungai Indus di India menggunakan air untuk menyiram kotoran pada tumpukan batu bata yang telah disusun sebagai tempat pembuangan. Selanjutnya, Mesir, Yunani dan Romawi, semuanya mengembang-kan sistem sanitasi yang canggih pada masing-masing masanya.

            Mesopotamia yang dianggap sebagai tempat lahirnya peradaban juga memiliki julukan lain, yaitu “seat of sanitation”.[4] Sebagai salah satu peradaban tertua di dunia, Mesopotamia telah mengembangkan penggunaan kakus umum. Pada masa pemerintahan Raja Saragon I yang menguasai Mesopotamia pada abad 3000 SM, raja membangun enam kakus umum di dalam istananya. Sebuah kemajuan dari penggunaan kakus jongkok yang terbuat dari tanah liat yang dirasakan kurang nyaman, sedangkan kakus umum raja menyediakan sebuah tempat duduk diatas lubang kakus dan toilet duduk paling awal tercipta dengan bentuk seperti tapal kuda.

Penggalian reruntuhan di Lembah Sungai Indus di India menunjukkan sisa-sisa bangunan kota Mohenjo Darro dan Harappa. Kota Mohenjo Darro sekitar tahun 2800 SM memiliki beberapa bangunan toilet yang paling maju, yang dibangun di dinding luar rumah. Toilet yang digunakan pada saat itu terbuat dari batu bata dengan kursi kayu di atas tumpukan batu bata yang disambungkan dengan saluran air. Tetapi toilet jenis itu hanya digunakan oleh golongan kelas kaya, sedangkan kebanyakan orang menggunakan toilet jongkok. Akan tetapi, Orang-orang dari Peradaban Harappa, pada umumnya telah menggunakan toilet yang disiram dengan air di setiap rumah yang dihubungkan dengan saluran pembuangan dari  batu bata tanah liat yang dibakar.

Orang-orang Mesir Kuno pada tahun 2500 S.M. sudah memiliki cara untuk mengatasai masalah pembuangan dengan membangun kamar mandi yang dilengkapi dengan kakus dan dibersihkan dengan menggunakan tangan dan air dari timba. Kakus yang digunakan terbuat dari tanah liat yang dibakar dan dibentuk sebagai tempat pembuangan dan sampai hari ini pun, di Mesir masih banyak digunakan kakus seperti ini. Kemajuannya dibidang teknologi sanitasi terlihat di kota Akhenaton yang terletak di Tel-el-Amarna.

Yunani Kuno mungkin memiliki ide pemikiran yang orisinil tentang filsafat dan politik, tetapi masalah kebersihan kota bukanlah sebuah prioritas.[5] Hubungan dagang negara-negara Laut Tengah lainnya memberikan Yunani Kuno kontak yang berharga. Sehingga terjadi asimilasi ide dan pemikiran dari masing-masing negara, tidak terkecuali masalah sanitasi. Kakus yang dimiliki penduduk kelas atas kota Priene Yunani sama seperti yang dimiliki oleh para bangsawan di Mesir. Di Roma juga memiliki sistem pembuangan kotoran untuk umum yang disebut dengan cloaca maxima, yang dibangun sedemikian rupa untuk menampung air hujan dan kotoran agar tidak menggenangi jalan yang dihubungkan dengan banyak saluran air dan para narapidana atau orang-orang terhukumlah yang membersihkannya. Kakus yang digunakan oleh orang-orang Roma terbuat dari batu yang berbentuk tempat duduk dengan lubang ditengahnya. 


Gambar 1
Kamar Mandi Zaman Romawi

Jika dilihat dari penjelasan di awal, maka terlihat teknologi sanitasi di Eropa tidak terlalu menyebar. Meskipun begitu, tetap saja orang-orang Eropa khususnya berusaha untuk tetap memperbaiki sanitasi sesuai dengan kebutuhan jamannya. Hingga nanti pada tahun 1189 dimana kota London yang menjadi tempat populasi padat di Eropa sekaligus tempat munculnya toilet modern diciptakan memainkan peranan penting bagi perkembangan toilet hingga ke dunia.

2.       Penemuan kloset bilas modern pertama dan perkembangannya

 Selama manusia tidak memiliki tempat tinggal yang didirikan secara permanen, ia tidak memiliki toilet. Dan selama itu pula manusia membuang kotoran dimanapun dia merasa ingin melakukannya. Ketika manusia kemudian belajar untuk memiliki rumah tetap, ia kemudian membangun kamar mandi dari luar halaman rumah ke dalam rumahnya. Setelah ini dilakukan, tantangan selanjutnya adalah menangani bau. Manusia mencoba berbagai cara, mulai dari menggunakan pispot yang dibersihkan secara manual oleh para hamba atau budak bagi para bangsawan. Menggunakan tumpukan batu bata dan tanah liat sebagai jamban atau langsung membuangnya di hutan atau sungai. Barulah pada abad ke- 16, terobosan teknologi terjadi dan memungkinkan manusia untuk memiliki toilet bersih di rumah. Terobosan ini tidak terjadi dengan cara yang tidak mudah dan umat manusia harus hidup dalam kondisi kurang sehat selama ribuan tahun.

Sir John Harington dikenal sebagai  Bapak WC ( Water Closet ), ia adalah yang menemukan toilet siram atau flushing toilet yang diberinama Ajax tahun 1596. Akan tetapi penemuannya ini hanya berjumlah dua buah, satu dimiliki oleh Harington dan satu lagi diciptakan untuk Ratu Elizabeth I yang tertarik dengan hasil ciptaannya. Ajax berasal dari kata “a jakes”, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan sebuah kakus. Penemuan Harington ini masih menggunakan bejana untuk menampung tinja, sehingga bau tak sedap masih jadi masalah. Meskipun demikian, kloset Harington merupakan kloset bilas modern pertama di dunia yang mengawali perkembangan teknologi toilet modern.


 









Gambar : Sir John Harington (kiri) dan Penemuannya Ajax (kanan) 
  Sumber : MasterPlumbers.com

Abad kedelapan belas adalah abad toilet dan dianggap sebagai abad kebangkitan toilet. Meskipun penemuan Ajax oleh John Harrington pada tahun 1596 tidak diadopsi dalam skala besar, dan warga Inggris khususnya masih tetap menggunakan pispot sebagai tempat membuang kotoran. Keterlambatan penggunaan aktual dari penemuan adalah umum dalam sejarah manusia yang Toffler sebut dengan sebagai Celah Budaya. Kloset yang diciptakan oleh Harington kemudian disempurnakan oleh Alexander Cummings mampu memberikan pencerahan bagi perkembangan toilet untuk selanjutnya. Cummings pada tahun 1775, berhasil mengembangkan teknologi toilet awal dari Hurrington dan menemukan kloset bilas yang tidak bau yang disebut dengan valve closet. Penemuan penting Cummings adalah kloset ini menggunakan saluran pembuangan leher angsa atau mirip huruf S. Bentuk ini membuat air menggenang di leher angsa tersebut, dan menghalangi keluarnya bau kotoran. Cummings merupakan orang pertama yang mendapatkan hak patent terhadap penemuan kloset bilas tak berbaunya tersebut.

Joseph Bramah juga merupakan tokoh yang tidak kalah pentingnya dalam perkembangan teknologi kloset. Bramah merupakan seorang tukang kunci, sehingga kelebihan dari penemuan klosetnya tersebut adalah penambahan engsel pada penutup kloset yang tidak terdapat pada penemuan Cummings.





Gambar :  Cumming's Valve closet dipatentkan pada 1775 (kiri), Brahma Valve Closet dipatentkan pada 1778 (kanan), JG Jennings toilet 1852 (bawah)


            Thomas Crapper merupakan tokoh yang kontroversial, karena dianggap oleh kebanyakan orang sebagai penemu toilet modern. Thomas Crapper adalah seorang tukang ledeng yang mendirikan Thomas crapper & Co di London. Berlawanan dengan kesalahpahaman yang meluas, crapper tidak menciptakan toilet bilas tetapi adalah pemilik perusahaan yang bergerak dibidang tersebut. Meskipun demikian, Crapper sudah berbuat banyak untuk meningkatkan popularitas toilet dan terkenal dengan kualitas produk pipa toilet yang dihasilkannya. Crapper memegang sembilan paten, empat untuk perbaikan saluran air, tiga untuk lemari air, satu untuk penutup lubang got dan terakhir untuk sambungan pipa. Setiap permohonan paten untuk produk-produk pipa terkait yang diajukan oleh crapper berhasil melewati proses dan paten resmi diberikan.

Kota London diserang wabah kolera sebanyak tiga kali tahun 1832, 1849, 1854. sebagian besar rakyat Inggris terserang wabah kolera, terutama terjadi pada masyarakat yang tinggal di perkotaan yang miskin. Penyebab merebaknya wabah kolera disebabkan oleh kondisi sanitasi yang jelek, sumur penduduk berdekatan dengan aliran air kotor dan pembuangan kotoran manusia. Air limbah yang mengalir terbuka tidak teratur, makanan yang dijual di pasar banyak dirubung lalat dan kecoa. Disamping itu ditemukan sebagian besar masyarakat miskin, bekerja rata-rata 14 jam per hari, dengan gaji yang dibawah kebutuhan hidup, sehingga sebagian masyarakat tidak mampu membeli makanan yang bergizi.[6]

Untuk menanggapi hal ini, akhirnya parlemen mengeluarkan undang-undang yang isinya mengatur upaya-upaya peningkatan kesehatan penduduk, termasuk sanitasi lingkungan, sanitasi tempat-tempat kerja, pabrik dan sebagainya. Dalam Undang-undang Kesehatan Masyarakat tersebut, ditegaskan setiap rumah baru harus memiliki Water Closet (WC)  ataupun jamban. Setelah sekian lama rakyat Inggris menggunakan pispot, dan menunggu hampir selama 300 tahun setelah diciptakannya toilet modern pertama oleh Sir John Harrington, akhirnya penggunaan toilet digunakan secara universal. Akibatnya, Inggris memimpin dunia dalam hal pembangunan dan sistem pengolahan limbah yang baik dan dalam memproduksi toilet di dalam ruangan terutama setelah inovasi yang telah dilakukan oleh Thomas Crapper yaitu toilet bilas di tahun 1872.

Pembaharuan teknologi toilet tidak berhenti, bahkan terus berkembang dan di komersilkan dengan dibuat masal. Teknologi toilet di perbaharui secara berkala sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan permintaan pasar. Toilet yang orisinil terdahulu dibuat dalam dua bagian, tempat duduk kloset dan tempat penampungan air untuk penyiraman dan masing menggunakan bahan kayu kini digantikan dengan bahan-bahan seperti keramik dan porselen dari Cina. Muncul perusahaan-perusahaan yang bergerak dibidang sanitasi dan pembuatan toilet seperti sekarang. Sehingga penggunaan toilet menjadi lumrah dikalangan masyarakat.


3.      Universalisasi penggunaan toilet di dunia dan Permasalahan Sanitasi

Dari peradaban-peradaban awal seperti Mesir, Yunani dan Romawi telah tercatat bahwa manusia telah melakukan usaha untuk menanggulangi masalah-masalah kesehatan masyarakat dan penyakit. Telah ditemukan pula bahwa pada zaman tersebut tercatat dokumen-dokumen tertulis, bahkan peraturan-peraturan tertulis yang mengatur tentang pembuangan air limbah atau drainase, pemukiman pembangunan kota, pengaturan air minum, dan sebagainya. Manusia juga berusaha untuk membangun tempat-tempat pembuangan kotoran umum, meskipun alasan dibuatnya tempat tersebut bukan karena alasan kesehatan tetapi lebih kepada faktor kebutuhan dan gangguan. Dibangunnya toilet umum bukan karena kotoran manusia dapat menularkan penyakit tetapi karena kotoran manusia menimbulkan bau dan pandangan yang tidak sedap.
 
Pada permulaan awal abad Masehi sampai kira-kira abad ke-7, berbagai macam penyakit menular mulai menyerang sebagian besar penduduk dan telah menjadi epidemi bahkan di beberapa tempat telah menjadi endemi. Penyakit kolera telah tercatat sejak abad ke-7 menyebar dari Asia khususnya Timur Tengah dan Asia Selatan ke Afrika. India disebutkan sejak abad ke-7 tersebut telah menjadi pusat endemi kolera. Disamping itu lepra juga telah menyebar mulai dari Mesir ke Asia Kecil dan Eropa melalui para emigran.[7] Upaya-upaya untuk mengatasi epidemi dan endemi penyakit-penyakit tersebut, orang telah mulai memperhatikan masalah lingkungan, terutama sanitasi lingkungan. Pembuangan kotoran manusia, pengusahaan air minum yang bersih, pembuangan sampah, ventilasi rumah telah tercatat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pada waktu itu.
 Bangkitnya ilmu pengetahuan pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 mempunyai dampak yang luas terhadap segala aspek kehidupan manusia, termasuk kesehatan. Kalau pada abad-abad sebelumnya masalah kesehatan khususnya penyakit hanya dilihat sebagai fenomena biologis dan pendekatan yang dilakukan hanya secara biologis yang sempit, maka mulai abad ke-19 masalah kesehatan adalah masalah yang kompleks. 
Dalam rangka meningkatkan kondisi sanitasi, pemerintah di berbagai negara juga terpaksa melakukan langkah-langkah hukum. Pada 1519 pemerintah provinsi Normandia di Prancis membuat penyediaan toilet wajib di setiap rumah. Pemerintah Prancis juga mengeluarkan keputusan parlemen untuk membuat septik tank di setiap rumah. Sekali lagi upaya serupa dilakukan pada tahun 1539, di Bordeaux di Perancis, pemerintah membuat pembangunan septik tank. Tahun 1668 juga dikeluarkan peraturan yang mewajib menggunakan toilet dimasing-masing rumah di Inggris dan puncaknya hukum sanitasi pertama disahkan pada 1848.[8]
Toilet adalah bagian dari sejarah kesehatan manusia yang merupakan bab penting dalam sejarah peradaban manusia dan yang tidak dapat dipisahkan karena memiliki posisi penting dalam sejarah. Toilet adalah link penting antara ketertiban dan kekacauan dan antara lingkungan baik dan buruk.[9] Dalam perkembangannya, bentuk serta inovasi toilet mulai marak ada, sifatnya bukan lagi sekedar memenuhi kebutuhan tetapi sudah mengarah pada gaya hidup dan seni.

Di era modern ini, penggunaan toilet bukan hanya menjadi sebuah kebutuhan hidup bagi setiap orang, akan tetapi toilet kini menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakatnya. Toilet duduk kini menjadi toilet umum yang digunakan disebagian besar negara-negara di dunia. Universalisasi toilet duduk yang dikembangkan di Eropa khususnya Inggris kini mulai menjadi standar dalam penggunaan toilet di dunia. Meskipun masih banyak negara-negara di dunia menggunakan toilet jongkok ataupun cara-cara tradisional dan sederhana dalam permasalahan pembuangan kotoran sesuai dengan kondisi sosial dan sumber daya alam setempat. 

 C. Kesimpulan

Toilet merupakan salah satu penemuan besar manusia dalam sejarah. Akan tetapi, besarnya kegunaan toilet tidak sebesar pengetahuan kita terhadap sejarah penemuan dan perkembangan toilet seperti yang kita kenal sekarang. Berbagai upaya telah dilakukan oleh manusia untuk memenuhi hajat hidupnya dengan menciptakan berbagai teknologi tempat pembuangan kotoran yang lebih baik dan nyaman. Tetapi, perkembangan itu tidak terjadi seketika tetapi perlu melewati waktu hingga ribuan tahun lamanya.

Berbagai peradaban awal seperti Mesopotamia, Lembah Sungai Indus, Mesir, Yunani, Romawi telah menunjukkan kepada kita kebudayaan tinggi mereka, tidak terkecuali masalah sanitasi. Peradaban-peradaban awal tersebut bahkan telah menciptakan perkembangan teknologi tinggi dalam mengatasi permasalahan sanitasi. Bangsa Romawi telah memberikan contoh menakjubkan dengan pembangunan 144 kamar mandi umum dengan sistem drainase yang begitu tertata rapih. Mesir mampu mengembangan sekaligus meyebaran teknologi pembuata kakus sehngga juga dikembangkan di Eropa khususnya di Yunani. Perbedaan bentuk dan jenis pada masing-masing perkembangan jenis toilet tergantung pada budaya dan sumber daya alam setempat. Berkembangnya kloset duduk di wilayah Barat berkaitan dengan kultur dimana kloset duduk dianggap lebih terhormat dibandingkan dengan kloset duduk. Sedangkan berkembangnya kloset duduk yang umum digunakan dibelaha bumi sebelah Timur juga terkait kultur dan perkembangan serta peyebaran teknologi toilet. Sejak awal, perkembangan teknologi kloset di Timur cenderung memiliki pola dan gaya desain jongkok, hal ini terus bertahan hingga pengenalan kloset duduk seiring dengan kontak budaya dan perdagangan antar negara.
Inggris yang merupakan negara pengembang teknologi toilet modern mempunyai latar belakang sejarah dan budaya yang penting dalam mendorong munculnya teknologi toilet ini. Sebut saja Sir John Harington, Thomas Crapper, Joseph Bramah, JG. Jennings, dan lainnya yang memberikan kontribusi nyata dalam mengembangkan teknologi toilet sehingga mencapai bentuknya sama seperti sekarang. Tentu saja butuh waktu yang tidak sebentar untuk mencapai itu semua. Perhatian pemerintah Inggris dalam menata kembali persoalan sanitasi akibat memburuknya kesehatan dan kelayakan hidup rakyat Inggris khususnya di daerah perkotaan kumuh memberikan dampak berarti bagi perbaikan di bidang sanitasi. Hal ini kemudian memicu penggunaan toilet secara masal dan memberikan peluang bagi perusahaan-perusahaan dibidang sanitasi untuk bersaing dan menciptakan kebutuhan akan keperluan kamar mandi yang sesuai dan kebutuhan. Inggris memimpin dalam persoalan pembuatan toilet di dunia.




 Daftar Bacaan


Buku :

Baxter, Joseph. The Essential Bathroom Book. West Sussex: Summersdale Publisher, 2004.

Horan, Julie L. The Porcelain God : A Social History of The Toilet. Citadel Press Book, 1996.

Molotch, Harvey. Where Stuff Comes From: How Toasters, Toilets, Cars, Computers, and Many Other Things Come to Be as They Are. Taylor & Francis Book, 2003.

Notoatmodjo, Soekidjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta, 2003.

Phillips, Dee, etc. Just The Fact: Invention & Discoveries. Ohio : ticktock Entertainment Ltd, 2005.

Sedgwick, Eve Kosofsky. Epistemology of The Closet. California: University of California Press, 1990.

Internet :

Saifur Rohman. Belajar dari toilet. Kompas, Rabu, 18 Maret 2009, 11:33 WIB

Bindeswar Pathak, History of Toilet; The paper presented at International Symposium on Public Toilets held in Hong Kong on May 25-27, 1995 post in http://www.sulabhtoiletmuseum.org
                                                       
http://www.muswell-hill.com/foxandco/pages/history_toilet.htm





[1] Julie L. Horan,  The Porcelain God : A Social History of The Toilet  (Citadel Press Book, 1996), p.vii
[2] kloset yang digunakan dengan cara mendudukinya untuk buang air besar yang memiliki fasilitas untuk menyiram buangan setelah digunakan
[3] kloset yang digunakan dengan cara berjongkok di atasnya untuk buang air besar
[4] Ibid., p. 3
[5] Ibid., p.10
[6] Didasari oleh penelitian Edwin Chadwich seorang social scientis Inggris
[7] Soekidjo  Notoatmodjo, Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat (Jakarta : Rineka Cipta, 2003),  p.23-31
[8]Soekidjo  Notoatmodjo, Ibid.
[9] http://www.sulabhtoiletmuseum.org/pg02.htm, Kamis 15 Juni 2011, 13.05 wib

1 komentar: